Bermula dari Mesir, mengalirkan shadaqoh ilmu hingga ke Nusantara.
AFANIN (Asosiasi Kaligrafer Arab Murni Indonesia) lahir di Kairo pada 28 Ramadhan 1427 H (bertepatan dengan 20โ21 Oktober 2006), berakar dari idealisme para mahasiswa Indonesia di Madrasah Khalil Agha. Berawal sebagai komunitas diskusi yang diinisiasi oleh enam mahasiswa perintis, wadah ini berhimpun di bawah naungan ICMI Orsat Kairo dan berpegang teguh pada Manhaj Hamidi โ metode klasik Turki Utsmani yang diajarkan langsung oleh Syekh Belaid Hamidi di Markaz Halqah Khairiyyah. Prinsip shadaqoh ilmu menjadi nadi yang menggerakkan kami untuk melahirkan generasi kaligrafer bersanad.
Dalam perjalanannya, kawan-kawan Masisir generasi awal turut bergabung bahu-membahu memperluas syiar Manhaj Hamidi, merangkul sesama pelajar nusantara hingga kawan-kawan dari Malaysia, Singapura, dan Thailand. Dari ruang sederhana di Kairo hingga kini meluas ke berbagai penjuru, AFANIN terus menjaga otentisitas tradisi sanad. Sebagaimana pesan Abu al-Ala al-Ma'arri: "Tulisan akan abadi selamanya melampaui usia penulisnya." Inilah amanah yang terus kami rawat.
"Jangan lupa wahai anakku,
Zakat ilmu."
โ Nasihat Syekh Belaid Hamidi
Menjadi mercusuar pendidikan kaligrafi Arab murni bagi masyarakat Indonesia, berlandaskan sanad keilmuan yang lurus dan akhlak yang mulia.
Dari obrolan kecil di Kairo hingga menjadi madrasah rujukan.
Enam mahasiswa Indonesia di Madrasah Khalil Agha mulai rutin ngobrol dan bercita-cita membentuk komunitas kaligrafi.
AFANIN resmi berdiri di Kairo di bawah naungan ICMI Orsat Kairo (20โ21 Okt 2006). Nama AFANIN: Asosiasi Kaligrafer Arab Murni Indonesia.
Pembuatan karya, diskusi asrar khattat, kunjungan rumah kaligrafer, dan menghadiri pameran di Kairo.
Pelatihan Riq'ah 3 hari untuk mahasiswa baru, lalu pelatihan 3 bulan bersama KSW & PCIM, melahirkan 14 kader.
Berguru pada Syekh Belaid Hamidi, khattat kerajaan Maroko. Mendapatkan sanad dan metode klasik Turki Utsmani.
Menerapkan sistem klasik di Sekretariat ICMI. Buku Yusuf Dzannun sebagai pintu masuk khat Riq'ah.
Kawan-kawan generasi awal memperluas syiar Manhaj Hamidi hingga ke mahasiswa Malaysia, Thailand, dan Singapura. Jejak dakwah seni kian meluas.
Kaderisasi dan regenerasi berjalan secara berkelanjutan. Angkatan demi angkatan terus berproses menamatkan tahapan kurikulum klasik guna menjaga kemurnian sanad.
Thariqah Taqlidiyyah: Sebuah kurikulum batin dan lahir yang diwariskan secara sempurna selama berabad-abad.
Belajar satu jenis khat secara tuntas (Riq'ah, Diwani hingga Tsuluts) sebelum berpindah ke jenis berikutnya.
Menggunakan buku panduan otentik hasil karya master Turki Utsmani sebagai standar mutlak.
Koreksi langsung (Tashih) di atas kertas murid oleh tangan guru untuk transfer ruh seni yang benar.
Muhammad Izzat
Musthafa Halim, Hamid dkk
Hulusi Affandi & Yasari
Muhammad Syauqi
Sami Affandi
Wajib menuntaskan Buku Yusuf Dzannun sebagai pondasi asasiyyah.
"Tidak terikat waktu; kecepatan belajar sesuai kemampuan individu guna menumbuhkan kesabaran dan penghayatan yang hakiki."
Alhamdulillah, peminat datang dari berbagai penjuru tanpa paksaan. Ini membuktikan bahwa keindahan metode klasik akan selalu dicari oleh jiwa yang merindukan kesempurnaan.
Merangkul siswa dari berbagai negara ASEAN yang menuntut ilmu di negeri para Nabi (Mesir).
Mencetak kader-kader baru yang siap menjaga kesucian dan kemurnian tradisi kaligrafi Islam.
Bukan sekadar wadah belajar, namun rumah bagi silaturahmi para pecinta seni murni dunia.
Berjalan istikamah melestarikan metode klasik warisan para master kaligrafi dunia.
Menghormati guru pengampu sanad, enam mahasiswa inisiator pendiri Madrasah Khalil Agha, dan kawan-kawan generasi awal di Kairo.
Pencetus Manhaj Hamidi ยท Khattat Maroko
Lahir pada tahun 1959 di โAin Lauh, Kerajaan Maroko. Beliau adalah sosok pendidik luar biasa yang pernah dipercaya mengajar di Madrasah Maulawiyah, sekolah khusus bagi keluarga Kerajaan Maroko di lingkungan istana.
Bermukim di Mesir dan menjadi pengampu utama di Markaz Halqah al-Khairiyyah. Beliau merupakan kaligrafer Arab Muslim pertama yang meraih 3 ijazah pada 5 cabang utama kaligrafi dari master kaligrafi dunia: Syaikh Hassan Celebi (Turki) dan Prof. Dr. Ali Alparslan.
Karya Agung
Penulis 6+ Mushaf Al-Qur'an
Reputasi Dunia
Dewan Juri IRCICA Istanbul
Madrasah Khalil Agha & ICMI Orsat Kairo
Berawal dari diskusi intensif mahasiswa Indonesia di Madrasah Khalil Agha yang bertekad mendirikan wadah kaligrafi murni. Para perintis awal yang tercatat dalam sejarah pendirian AFANIN:
Para perintis inilah yang mengawali jembatan sanad keilmuan Manhaj Hamidi dari Kairo ke Nusantara melalui prinsip shadaqoh ilmu.
Pilar Pergerakan & Pengenalan Manhaj Hamidi ke Mahasiswa Serumpun
Dalam perjalanannya, bergabung banyak kawan-kawan Masisir lainnya yang menjadi generasi awal. Bersama-sama mulai mengenalkan Metode Hamidi kepada sesama Masisir serta membuka pintu silaturahmi bagi rekan-rekan mahasiswa dari Malaysia, Singapura, dan Thailand.
Momentum resmi deklarasi berdirinya AFANIN di Kairo, Mesir di bawah naungan ICMI Orsat Kairo.
Berdasarkan perhitungan konversi astronomis Hijriah ke Masehi, tanggal 28 Ramadhan 1427 H bertepatan dengan Sabtu, 21 Oktober 2006. Namun dimungkinkan terdapat perbedaan hisab/rukyat hilal di Mesir saat itu, sehingga dalam memori pendiri tercatat pada hari Jumat (20 Oktober 2006).
AFANIN adalah bagian tak terpisahkan dari Ahaly Hamidi, sebuah komunitas kaligrafer global yang dipersatukan oleh kesamaan metode, visi, dan sanad keilmuan yang lurus di bawah bimbingan Syekh Belaid Hamidi.
Jejaring intelektual yang kini tersebar di lebih dari 40 negara di seluruh dunia.
Ratusan kaligrafer telah meraih ijazah resmi dengan standar kelulusan internasional.
Di Ahaly Hamidi, seni bukan sekadar keindahan visual, melainkan latihan watak. Kesabaran dan kemuliaan karakter adalah fondasi mutlak seorang murid.
Pengembangan sistem tradisional (taqlidi) Turki Utsmani dengan sistem ijazah yang ketat, memastikan setiap karya memiliki silsilah yang otentik.
Kami masih muda, masih banyak belajar. Namun kesempatan saat ini begitu mahal. Kritik, dukungan, dan doa dari sahabat di tanah air sangat kami harapkan. Mari bersama menghidupkan seni Islam yang agung ini.